Files Site Map

Tentang

Martias

Oyonk

 

Martias Oyonk dengan nama lengkap Martias Panca Putra adalah orang muda yang memposisikan dirinya sebagai pengamat sosial keagamaan dan Pendidikan yang sangat potensial di Sumatera Barat

Beberapa karya tulisan dan pemikirannya telah banyak diterbitkan di beberapa surat kabar diantranya kami posting ulang pada halaman situs ini, dengan harapan bisa lebih bermanfaat bagi pembaca sekalian

... amin ...

 

Oktober 2008

 

  Pencarian Article

 

... Link Kita ...

Indonesia

Berkenalan Dengan Iblis

K-I-T-A Berati Kajian Ilmu Tauhid Awam

Dakwah Buya Bakhtiar  Khatib

Kumpulan Artikel Oyonk

Link Web Indonesia

 

English

Get Acquainted With Dickens

The Study Of Common Tauhid Science

My Tauhid

 

External

Rumah Sakit di Singapore

Bikin Duit Yuk ... !!!

 

Update

10.11.2008

 
   

 

 

 

Powered by Stats 21

 

Global

Indonesia

 

 

Google bot last visit powered by Bots Visit  

Yahoo bot last visit powered by  Bots Visit  

Msn bot last visit powered by  Bots Visit  

powered by PrMania.Net  

 

 

 
 

geovisite
 

Article Oyonk

 

Fenomena Sosial Yang Terus berkembang Dirangkai dalam Kumpulan Artikel Islam oleh Martias Oyong Dengan Pengamatan Yang Cermat dan Kritis

 

05

“Tamparan Illahi”

Post By : Martias Oyonk

 

Tamparan Illahi “ Allah Swt berfirman didalam Al Quran surat Al Anfaal ayat 25 “ Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya”. Memahami ayat Al Quran diatas mengingatkan kita pada serentetan musibah dan bencana alam yang datang tiada henti akhir-akhir ini. Kedatanganya pun tidak memandang waktu dan tempat bahkan dikatakan tidak menimpa orang-orang yang zalim,ingkar dan kafir saja. Jelas hal ini sangat menakutkan kita semua apalagi hidup ditengah masyarakat yang majemuk dan heterogen serta perbedaan yang beragam termasuk perbedaan aliran kepercayaan (agama),social budaya dsb, ditambah dengan semakin bebas berkembangnya budaya-budaya luar yang semakin memperparah akhlak anak bangsa. Mungkinkah Allah yang memiliki semuanya sudah murka ? atau alam yang kita diami ini sudah tidak inginkan keberadaan kita lagi ? lantaran muak melihat tingkah pola kita. Coba, kita mundurkan pikiran sesaat,tentang hari-hari yang telah kita lalui,tentang kelestarian alam yang telah kita rusak,tentang perintah Allah yang sering kita lalaikan bahkan kita lupakan dengan sengaja. Sehingga musibah dan bencana yang menghentakan kita semua akan dapat membawa kita pada kesadaran dan keinsyafan, serta selalu melakukan introspeksi diri,sadar diri bahwa kita ini adalah kecil dimata Allah dan hanya Allahlah yang maha besar dan maha perkasa.

 

Masih segar dalam alam pikiran kita bagaimana dahsyatnya goncangan gempa yang memicu gelombang pasang yang diistilahkan dengan Tsunami ( Tuhan Suruh Umat NAbi Muhammad Insyaf ) meluluhlantakan bumi serambi mekah akhir tahun 2004 lalu. Yang telah merugikan dan menghancurkan perekonomian serta sendi-sendi kehidupan masyarakat Aceh, Nias dan negara-negara Asia lainya, bahkan tidak sedikit menelan korban nyawa anak-anak dan orang tua. Dan, beberapa minggu yang lalu kita kembali dikejutkan oleh bencana alam yang kesekian kalinya,korban nyawa berjatuhan lagi,perkampungan penduduk luluh lantak lagi,laut yang seharusnya bersahabat dengan alam dan manusia kini bergejolak lagi ( Tsunami ). Ujian Allah buat manusia beriman diberikan lagi,serta tamparan Illahi untuk manusia-manusia zalim,sombong,munafik dan bergelimang dosa lainya divoniskan lagi. Hal ini kalau kita perhatikan tak obahnya seperti gambaran kiamat dimana manusia saling menyelamatkan diri masing-masing dalam situasi kecemasan dari ketakutan yang amat sangat.  Merujuk dari sumber autentiknya Al Quran yang telah mengajarkan bahwa setiap perbuatan atau amal ibadah harus disertai dengan iman, tampa keimanan maka semua amalanya tersebut akan sia-sia,karena keimanan ini hakikatnya memerintahkan untuk mempercayai,meyakini atau memahami apa-apa yang menjadi perintah dan larangan Allah. Begitu juga halnya,belum sempurna nilai keimanan seseorang ketika terlontar dari mulutnya” saya beriman pada Allah” sebelum ia membuktikan keimanannya,dengan ujian yang diberikan Allah dalam bentuk kesusahan maupun kesenangan. Hal ini telah difirmankan Allah Swt dalam Qs Al Ankabut-2 “ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “ kami telah beriman”,sedangkan mereka tidak diuji lagi ? “. Banyak sudah bentuk ujian keimanan yang diberikan pada manusia,ujian itu ada yang berbentuk kegembiraan ada juga berbentuk kesedihan maupun kesusahan. Dalam hal inilah manusia sering lupa,kalau sudah mendapatkan kesenangan/keuntungan sangat mudahnya melupakan Allah. Sampai datang masa kesusahan dan keburukan,dan tidak menyadari bahwa kematian dan kehidupan ini adalah ujian. Bahkan Islam memandang jalur-jalur kehidupan ini adalah ujian. Berfirman Allah dalam Qs Al Anbiyaa-35 “ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya ). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Jadi,kalau kemaren,hari ini,besok atau lusa kita masih diberikan kesempatan untuk bernafas oleh Allah, yang disertai dengan kegembiraan maupun tetesan air mata akibat kehilangan saudara,ibu atau bapak juga harta benda itu adalah ujian dari-Nya.

 

Setiap musibah maupun bencana yang telah atau yang akan terjadi, semuanya tak luput dari Iradat Allah. Itulah karakter Allah,berbuat berdasarkan Iradat-Nya. Sementara manusia sekuat dan selemah apapun, sebodoh dan sepintar apapun,sekaya dan semiskin apapun hanya diberikannya kesanggupan untuk merencanakan(memplaningkan) sesuatu hal. Sedangkan keputusan mutlaknya tetap milik Allah yang berdasarkan kehendak-Nya tadi. Namun,hal ini setidaknya dapat kita cegah terjadinya dengan menegakan kalimat Tauhid, memperbanyak amal ibadah,saling bahu-membahu didalam beramar makruf dan bernahi mungkar,sehingga rahmat,nikmat dan karunia Allah selalu menaungi kehidupan ini dengan banyak mengingat kebesaran Allah Ta’alla. “ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram” orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik “. ( Qs Ar Ra’d – 28). Ditegaskan lagi oleh Allah dalam Qs Al A’raf – 56  yang intinya adalah mengecam manusia-manusia yang sudah ketagihan melakukan kerusakan dimuka bumi ini,yang telah mengundang berbagai macam musibah dan bencana alam,baik yang terjadi didaratan maupun dilautan.

 

Musibah adalah ujian dari Allah bagi mereka yang beriman dan bertaqwa yang namanya ujian tentulah tidak mudah. Bahkan didalam Al Quran sendiri Allah akan menguji setiap pribadi hamba dengan berbagai bentuk ujian. Yang bertujuan untuk mengetahui apakah manusia itu benar-benar telah beriman atau hanya berpura-pura beriman (munafik). Seorang yang beriman pada Allah tentu akan beriman pula kepada segala sesuatu yang datang/didatangkan dari Allah Swt. Hal seperti inilah yang akan melahirkan bentuk-bentuk amalan shalehah,sebagai perwujudan bahwa ia meimplementasikan apa-apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Selain berbentuk ujian musibah dan bencana yang kita lihat dan rasakan sekarang ini,yang ditimpakan Allah pada umat manusia. Ada juga yang bertujuan untuk mengazab manusia-manusia zalim ,sesat, sombong, munafik yang suka mengingkari petunjuk yang diberikan Allah Swt.

 

Melalui ayat-ayat suci Al Quran dan hadis Rasulullah Saw,kita bias mengutip suatu iktibar, yang banyak menceritakan apa penyebab mundur dan hancurnya suatu kaum.Yang umumnya mereka semua menyimpang dari aturan Illahi tersebut yang diusung oleh para utusan Allah (para Rasul). Dizaman sekarang inipun kaum-kaum dan kelompok-kelompok yang diceritakan Al Quran telah nampak. Akhlak manusia sudah banyak yang tidak sesuai lagi dengan ajaran Islam. Mahasiswa dan pelajar yang gemar tawuran dengan nafsu mengahabisi lawan,tawuran antar warga, perang antar suku,manipulasi data,memberi atau menerima suap,penyalahgunaan narkoba,pemerkosaan anak dibawah umur,seks bebas,aborsi,perjudian,mengkhianati amanah, penipu yang bebas berkeliaran,pornografi-pornoaksi yang selalu dipertentangkan, anak membunuh orang tuanya,bahkan guru menodai anak muridnya,penjualan anak-anak dan wanita serta berbagai prilaku penghalalan segala cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu dengan melakukan Korupsi,Kolusi maupun Nepotisme. Dan prilaku-prilaku seperti ini yang sering mengundang murka Allah. Padahal,menurut Islam manusia diciptakan atas kehendak Allah. Oleh karena itu, sifat-sifat kodrati dan fitrah manusia semestinya harus melekat pada diri setiap individu itu. Dan salah satu sifat kodrati dan fitrah manusia itu adalah Akhlak Mulia (Akhlakul Karimah). Hal inilah yang sekarang ini dan entah sampai kapan berangsur-angsur mulai terkikis dalam diri manusia itu. Sehingga tindak tanduk dari manusia itu banyak yang berlandaskan hanya pada hawa nafsu belaka,seolah-olah manusia itu telah menjadi apa yang disebut dalam ilmu Sosiologi dengan Homo Homoni Lupus ( manusia itu merupakan srigala bagi manusia lainya ). Saling memakan.

 

Sedangakan, anak negeri ini yang seharusnya berada ditempat pengajian dan dibangku sekolah belajar menuntut ilmu,akibat kemiskinan yang melilit, mau tidak mau harus membantu orang tuanya mencari nafkah bekerja di sawah,diladang bahkan tidak sedikit dari mereka yang menjadi anak jalanan (anjal) diberbagai kota besar di negeri ini. Hal ini membuat pemerintah semakin bingung mengendalikan keadaan ini dan akan terus mencarikan wacana baru untuk jalan keluarnya. Padahal mereka semua tidak butuh wacana,yang mereka butuhkan adalah penghidupan yang layak dalam menjalankan hak dan kewajiban terhadap diri dan keluarga mereka, semoga pemerintah kita tidak melupakan akan hal ini. Marilah kita sama-sama saling mengingatkan akan hal kebenaran dalam hidup bermasyarakat,berbangsa dan bernegara agar tamparan Illahi yang berbentuk musibah dan bencana  yang datang tiada henti ini diangkat oleh yang maha kuasa dari bumi pertiwi ini menggantinya dengan kesuburan dan kemakmuran,kedamaian dan kesejahteraan sebagai perwujudan dari kemaha adilan sang Khalik. Walla Hu A’llam.

 

 Penulis : Pengamat Sosial keagamaan

 

   

<<< Back